Friday, December 14, 2007

The Red Leaves

You are at the top of the world,
You view upward, only looking forward
You are red, you are great
You are the burning desire
You are the new breed of the new era
You lead the way, you show me the way
You know nothing except going all the way
You are the breathe of the new Life
and you are the light and the Promises
of the New Life
Be different, because you are different
Be red, because you are so great!
Keep on growing, keep on reaching
Soon you will be the tree
who shade the country.

9th December, 2007. Ayer Keroh, Melaka. LP 110.

Monday, June 18, 2007

Selalunya orang yang kita sayang,
suka membuatkan kita dalam keadaan teruji.

Selalunya orang yang kita sayang,
suka membuatkan kita terkeliru.

Selalunya orang yang kita sayang,
suka membuatkan kita terluka.

Selalunya orang yang kita sayang,
suka membuatkan kita terkilan.

Selalunya orang yang kita sayang,
suka membuatkan tahap kesabaran kita
menipis.

Dan selalunya orang yang kita sayang,
suka membuatkan ianya hadir
bila memerlukan dan pergi tanpa
meninggalkan pesan...

Dan kita terpaksa melepaskan orang yang kita
sayang..kerana kita sayangkannya..
kerana kita terlalu amat menyayanginya..

Dan kita pinta perpisahan kerana kita tak mampu..
untuk membenci dirinya..
kerana dia sentiasa berada dalam hati kita..
walaupun dia yang paling banyak mencalarkannya...

Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita dan org yang kita sayang..
semoga kita semua mendapat rahmat dariNya...

obtained via unknown source.

Tuesday, October 03, 2006

Perjalanan Janji Abadi

Aku berdiri di kaki langit
Menghela nafasku berat
Mengulas angin mendakap tubuhku
Aku lontarkan seluruh pandanganku
Pada mentari yang kian tenggelam
Mengucap salam pada sang rembulan
Jadi penyambung hayat cahaya
Di sini aku titipkan seungkap kata
Penuh kasih dan penuh sayang
Dihembuskan terus kepada ruh malam
Mengirim berita rindu dan bicara cinta
Ayuhlah sang pungguk
Syairkan rindumu pada sang rembulan
Sebagaimana aku merindukan kesumaku
Marilah sang unggas, nyanyikan
Simfoni indahmu
Jadi penyokong alunan melodi rinduku
Yang selalu kusiulkan
Bilamana aku melangkah tegap
Hingga ke akhir hayatku
Menuju ke horizon harapan
Di situ aku temui kesumaku
Di situ berakhirnya perjalanan
Janjiku abadi.

Thursday, July 27, 2006

Bicara Hati

Aku menungkan satu hari
Yang indah ketika hanya aku dan dia
Kita bertemu, bersua dan berjumpa
Untuk berbual-bual cuma
Melepaskan rasa rindu yang bertandang sahaja.


Sesekali juga aku mengimpikan
Untuk berselisihan dengannya
Hanya untuk melihat kelibat wajah
Yang jarang sekali resah
Untuk aku serahkan sekuntum bunga
Tanda kasihku padanya,
Tanda setiaku padanya,
Tanda ikhlasku untuk tawan hatinya.


Seringkali juga,
aku titipkan selalu doa kudus kepada Dia
biar lembut gelora hatinya
biar ihsan urusan hidupnya
biar bahagia selalu mengiringi usianya
biar gembira jadi milik dia selamanya.

Saat sebelum mataku terlena
Sering saja kuucapkan
Sembah salam kata cinta
Moga angin malam meniupkan bait-bait kata
Terbang hingga seberang laut bergelora
Untuk sampai ke cuping telinganya
Bila pagi suria datang menjelma
Biar segar rasa hatinya
Lalu senyum berbunga di bibirnya
Tanda dia bahagia, ceria dan gembira
Biar pun tiada aku di sisinya
Yang aku inginkan hanya ingatan
Tulus ikhlas dari dia.

Jika berbekas rasa kasih dalam hatinya
Mungkin dia berkata iya
Jika berbekas rasa rindu dalam sukmanya
Mungkin dia angguk bersahaja
Jika wujud rasa cinta dalam hatinya
Mungkin dia berdoa mohon bersua
Moga kita berjumpa dalam rasa kasih mengasihi
Dalam rindu cinta menyintai
Dalam rasa hormat menyayangi
Dalam penuh restu Ilahi.

Notes for Her

Seeing you
is the desire of most men
can long for

Caring for you
is the sincere obligation of any man
can have

Missing you
is the greatest soothing feeling of a man
can feel

Longing for you
is the most logical sense of every man
must have

Loving you
is the honor whom a man
must treasure

And sacrifice for you
is the greatest sense of love of one man
for you to see him true.

Thursday, April 06, 2006

Kita berseloka bergurindam senda

Riuh rendah segala bicara
Aku termenung, cuma mengiya
Habis berfikir hanya untuk bertanya
Apakah lagi yang kita berlara

Jika niat mahu berkelana
Atas dunia ini mahu bergurindam seloka
Tapi kalbu kelabu bergundah gulana
Buat wajah masam mencuka

Aku akur menekur bumi
Sesekali mencari suara hati
Ingin ketemu niat hati yang hakiki
Buat pedoman berlari menuju pelangi

Berkalih aku membuat pilihan
Moga pilihan tepat jadi pertaruhan
Moga aku terus bertahan
Mencari kilauan pelangi idaman.

Thursday, November 24, 2005

10 Key Steps for achieving professionalism in Sales

A professional is a person who has dedicated himself orherself to a career regardless of the field. It's the opposite of an amateur. Professionals also make more money - could there be a relationship behind that fact? You bet.

In selling situations, and in life, how you present yourselfplays a big role in how people think of you and how muchattention people are going to pay to what you say. A dedicated professional commands more respect than a casual amateur. Always.

Step #1 - Start with Your Attitude.
Are you a professional? If so, why not let everyone know it. If not, maybe that's why you're not as successful as you would like to be.

Step #2 - Personal Appearance.
Are you really satisfied with your appearance? Grooming is important, good clothing is a must, and how about your health? Shape up your body, and it will shape up your attitude.

Step #3 - Business Appearance.
Your customers and clients relate financial success with competence. Does your car
communicate financial success? How about your briefcase? Your time planner? Are they well organized or stuffed to the gills with miscellany?

Step #4 - Organization.
Customers relate being organized to being competent. Organization is recognized as being on time, having a neat desk, being ready with the answers, and diligent follow-up. All these things tell your people that you are a person worthy of their confidence and the confidence of their friends.

Step #5 - Talk Like a Pro.
Avoid shop talk. Some people think that using all kinds of fancy terms means that they're experts. A real expert can explain a complex, technological process in plain English. So ask questions. Choose your words carefully. And plan your presentation from the prospect's point of view.

Step #6 - Stay in Tune.
Ours is a changing profession. Pushy, obnoxious salespeople are gone along with the less competent. People demand excellence from salespeople, and reward that excellence with referral after referral. Devote a regular part of your week to learning new skills and sharpening existing ones.

Step #7 - Respect Your Fellow Salespeople.
They have the same challenges as you do. They deserve the same credit and recognition when successful, the same help and encouragementwhen faltering. Everyone wins when the team gets stronger.

Step #8 - Remember Your Family and Friends.
They want a high quality relationship, too. Plan time for family and social needs. This will assure you of their understanding and support when business takes you away evenings and weekends.

Step #9 - See The People.
There are literally thousands of people in your area who need and deserve the professional
services that you provide. Make them aware of what you do. Be vocal about your abilities and qualifications. If you don't take it to them, they may get shortchanged by someone not as good as you.

Step #10 - Integrity Keeps You There.
Nearly every day an opportunity arises to take unfair advantage of someone. Professionals know that today's dissatisfied clients may prevent them from making transactions in the future.

Professionals know how important selling with the facts is. Stretching the truth, omitting information and avoiding present challenges by stalling or blaming someone else is for the bush leaguer. Sell with the facts, and you only have to sell them once.

Sunday, October 16, 2005

Pengemis Itu

Mohd Farid Mohd Nor, 16 Oktober 2005
Ampang, Selangor.


Dari hari demi hari, kaki melangkah sepi
Mencari satu makna kenyang sehari
Mencari satu peluang untuk hidup lagi
Berlawanan dengan terik mentari
Bercakaran dia dengan debu kota
Tapi langkah tetap langkah
Kerana setiap langkah bererti
Setapak lagi jauh dari makna mati hakiki

Padahal sudah diketahuinya
Dia tidak punya peluang untuk mengira
Detik masa yang tinggal untuk dia
Kerana dia seorang pengemis dunia
Yang tidak punya apa untuk diniaga
Melainkan kedutan di pipi dan seraknya suara
Yang hanya mengundang cemuhan orang
Jauh menusuk ke hati tua seorang gelandangan

Hari ini dia berhenti melangkah
Takut nanti dihempap angkasa kota
Takut dilanggar lori penguasa bandaraya
Lebih-lebih lagi, dihambat rasa takbur penghuni kota
Hari ini dia berhenti menadah tangannya
Kerana lemahnya tangan mengangkat
Sakitnya kaki melangkah

Terlantar dia terlentang di sudut kota
Bersama sampah sarap bersepahan di sisinya
Mahu dicium buat kali terakhir hayatnya
Sebelum dia dijemput tuhan
Pudar cahaya matanya mengenangkan hayat dunia
Menanti ihsan manusia, mengharap kasih Tuhannya
Tapi kini penantiannya hampir berakhir
Bila tubuh tua tak mampu menyokong jiwa
Jiwa lara, jiwa sengsara, jiwa pengemis dunia

Dia hembuskan nafasnya terakhir
Di celah ribuan manusia yang mundar mandir
Tanpa menyedari kehadirannya
Lantaran murahnya jiwa yang dikendong
Kerana tiada harga di pasaran kotaraya
Di matanya bertakung air jernih sepi
Tanda perginya dia berjumpa Ilahi
Tanda sayunya dia meninggalkan dunia ini.